Skip to main content

Posts

Abaikan saja. Ini tidak penting sama sekali

Selamat malam, Malam. Apa kabarmu malam ini? Aku tak menemukan satu pun bintang berkedip. Sedang sedihkah engkau? Ceritakan padaku apa yang membuatmu berduka? Tentu saja aku tak akan keberatan mendengar keluh kesahmu. Bukankah selama ini kau selalu bersedia mendengarku? Lalu bagaimana mungkin aku sampai hati mengabaikanmu apalagi saat kau sedang terluka seperti ini. Ceritakan padaku wahai Malam. Aku bersedia duduk diam mendengarkanmu. Aku tak akan menyela seperti saat kau sedang bercerita biasanya. Bahkan aku tidak akan keberatan jika kau sampai menangis lalu hujan akan mengguyur tempatku. Percayalah, aku tidak akan keberatan. Kau tahu sendiri bukan bagaimana aku selalu menyukai hujan yang kau guyurkan ke bumi. Hei, tapi itu bukan berarti aku juga senang melihat kau bersedih. Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya menyukai hujan, itu saja. Walaupun saat hujan turun berarti kau sedang berduka. Tapi harus bagaimana lagi. Seandainya saja hujan tidak ada sangkut pautnya dengan suasana hatimu...

Saya dan Turun Tangan Aceh ( Selamat Ulang Tahun TuTA)

Ada satu komunitas yang menarik perhatian sejak pertama kali saya mendengarnya. Turun Tangan Aceh (TuTA). Komunitas para relawan, para pejuang. Ah, relawan. Sesuatu yang sangat saya kagumi selain penulis. Saya baru mengetahui keberadaan komunitas tersebut pada akhir april 2015 lalu, setelah menerima sebuah pesan yang dikirimkan teman kampus saya yang ternyata juga bagian dari komunitas ini. Berawal dari pesan itu, saya mulai mencari cari tau tentang mereka.  Ngestalk  instagramnya, lihat foto yang sama berulang-ulang dengan tekad saya harus menjadi bagian dari komunitas ini. Keinginan tersebut berlanjut dengan langkah saya menghubungi koordinator nya, tanya tanya tentang bagaimana caranya agar saya juga bisa bergabung dengan mereka. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya memutuskan untuk menunda dulu niat saya bergabung dengan mereka, saya menunggu setelah kegiatan perayaan hardiknas yang akan dilaksanakan TuTa di pedalaman lhong, Aceh besar selesai. 3 Mei 2015, sa...

sebut saja ini cerita di akhir november yang hujan.

Lalu haruskah kita memepercayai seseorang yang mengatakan bahwa ia menyukai kita padahal satu kali pun ia belum pernah melihat diri kita? Tidak, tidak. Memang belum pernah dia katakan bahwa dia menyukai kita. Tapi dari sikap dan cara nya menghubungi kita, kita tau bahwa dia ingin mendekati kita. Haruskah kita mempercayainya ? haruskah kita membuka hati untuk seseorang yang tertarik pada kita hanya dengan melihat kita dalam selembar foto? Oh ayolah, kita sama sama tau bukan bahwa bagaimana bisa saja foto yang dilihat orang tidak sesuai dengan wajah asli kita. Kita sama sama tau bagaimana canggihnya aplikasi foto zaman sekarang. Walaupun kita memang tidak suka menggunakannya, tapi tetap saja alasan yang mengatakan bahwa ia tertarik setelah melihat kita dalam selembar foto tidak dapat kita terima. Kita tetap menutup diri kita. Menutup rapat-rapat hati kita. Bukan apa-apa. Kita hanya tidak ingin salah berharap. Kita hanya tidak ingin mengharapkan orang yang menawarkan hatinya untuk k...

Bagaimana jika? Sudahlah!!

Lalu bagaimana jika terkadang kita memikirkan seseorang yang tidak pernah memikirkan kita? Bagaimana jika terkadang kita membicarakannya yang tidak pernah membicarakan kita? Seseorang, yang mungkin satu kalipun kita tidak pernah terlintas di benaknya. Bagaimana jika kita tetap memimpikannya? Seseorang yang mungkin baginya, kita tidak akan membawa pengaruh apa-apa dalam hidupnya. Sedangkan bagi kita, dia adalah sesuatu yang entah bagaimana selalu kita nantikan. Bagi kita, dia adalah alasan untuk tetap bersabar. Sekalipun kita mengerti, bahwa tidak ada alasan untuk membuatnya melihat ke arah kita. Dan tidak ada alasan yang mengharuskan kita untuk bersabar. Tapi tak apa, kita tetap menguatkan diri kita dengan alasan-alasan yang terkadang kita buat sendiri. Bukankah ikal akhirnya menemukan aling? Bukankah tegar akhirnya bersama rosie? Bukankah itu karena mereka bersabar? Iya, tentu saja. Tapi sayangnya, kita berada pada posisi yang berbeda.Kita tidak hidup di dunia fiksi. Kita nyata. Dan ...

Rindu rumah dan seisinya

Postingan pertama yang sudah ditunda sejak tahun lalu ini akhirnya jadi juga karena perasaan rindu yang tiba-tiba datang begitu saja. hahaa, baru postingan pertama saja sudah membicarakan rindu. Tapi yaa, begitulah. Ini benar-benar situasi dimana rindu lah yang menguasai pikiran. Jadi mau bagaimanapun juga, maka isi tulisan ini harus tentang rindu. ya, rindu rumah. Ceritanya dimulai seperti biasa, susah tidur, tetap terjaga walaupun sudah lewat tengah malam, insomnia? entahlah. Yang jelas, kalau keadaannya udah gini, maka pilihan akhirnya adalah ngecek semua folder-folder, atau kepo in orang-orang yang dianggap menarik di sosmed, atau dengerin lagu yang sama berulang-ulang sampek eneg sama itu lagu dengan harapan supaya ini mata mau istirahat, atau diam aja di kasur sambil terlentang, biarin pikiran melayang entah kemana, mikirin kuliah, mikirin umur yang bentar lagi udah tambah tua, mikirin hidup di masa depan bakalan kayak apa, mikirin gimana caranya menghasilkan uang sambil lag...